Candi Jago, Keeksotisan Candi Pendharmaan Raja Wisnuwardhana

Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang – Atau sekitar 22 Km ke arah timur dari Kota Malang. Candi yang menurut kitab Kakawin Nagarakretagama dan Pararaton berasal dari kata “Jajaghu” yang memiliki arti “Keagungan” ini dibangun pada abad ke-13 di masa kejayaan kerajaan Singhasari (1268 – 1292 Masehi) yang berada dibawah pemerintahan Sri Maharaja Kertanagara.

Candi Jago, tempat pendharmaan Raja Wisnuwardhana (Foto: Andri.W | IndonesiaBagus.co.id)

Kabupaten Malang, Jawa Timur – Dibangunnya Candi Jago ini sebagai bentuk penghormatan Raja Kertanegara terhadap Ayahnya, yaitu Sri Jayawisnuwarddhana atau Raja Wisnuwardhana yang memerintah Kerajaan Singhasari pada tahun 1248 – 1268 Masehi. Hal ini seperti yang termuat dalam Nagarakretagama pupuh XXXXI bait 4, yang berbunyi: “Cakabda Kanawawaniksithi Batara Wisnu Mulih Ing Suralaya Pjah Dinamarta Sira Waleri Sirwawimbha Lan Sugatawimbha Mungguwing Jajaghu”, yang berarti : “Tahun Caka (Saka) awan Sembilan mengebumikan tanah (1190 Saka / 1268 Masehi) Raja Wisnu berpulang (wafat) dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajaghu berlambang arca Budha”. Hal ini tidaklah mengherankan karena Raja Wisnuwardhana adalah penganut setia ajaran Siwa-Budha*.

Arca Amoghapasa di Candi Jago (Foto: Andri.W | IndonesiaBagus.co.id)

Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak dari bahan batu andesit. Hampir seluruh bidang bangunan dipenuhi dengan berbagai macam relief yang terpahat rapi. Salah satunya adalah pahatan Padma (teratai) yang menjulur ke atas dari bonggol/pusatnya. Pahatan Padma tersebut menghiasi setiap tatakan arca di candi ini. Model pahatan Padma semacam ini sangat populer di masa kejayaan Kerajaan Singhasari.

Baca juga: Candi Singosari, Sebuah Mahakarya Kerajaan Singhasari

Keseluruhan bangunan candi memiliki panjang 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m. Saat ini hanya tersisa bagian kaki dan sebagian kecil badan candi, serta memiliki 3 teras bertingkat yang semakin mengecil keatas. Belum dapat dipastikan seperti apa bentuk sebenarnya dari atap Candi Jago ini, namun ada dugaan bahwa bentuk atap candi ini menyerupai Meru atau Pagoda.

Kalamakara di Candi Jago (Foto: Andri.W | IndonesiaBagus.co.id)

Meski tak lagi utuh, namun bentuk Candi Jago yang unik dan eksotis sangat cocok bagi para pemburu spot foto yang instagramable, terlebih lagi dengan latar belakang berbagai macam relief yang menghiasi dinding candi.

Baca juga: Pesona Sang Ken Dedes di Watugede

Rute :

  • Dari kota Malang (Kendaraan Pribadi) : Ke arah timur melalui Madyopuro – Cemorokandang – kecamatan Pakis – Tumpang. Atau bisa juga dengan melewati Kalan Laksda Adisucipto (jalan menuju bandara) – Kecamatan Pakis – Tumpang. Ikuti terus jalan utama hingga menemukan Pasar Tumpang yang berada di pusat Kecamatan Tumpang. Candi Jago berada sekitar 500 meter dari Pasar Tumpang.
  • Dari kota Malang (Kendaraan Umum) : Dari Terminal Arjosari, Naik angkutan umum jurusan Malang – Tumpang, kemudian turun di Pasar Tumpang. Dari Pasar Tumpang, Anda bisa menyewa jasa ojek ke Candi Jago atau berjalan kaki sekitar 10 menit. (IB)

*Agama Siwa-Budha adalah aliran keagamaan yang berkembang pada masa Kerajaan Singhasari dan bahkan menjadi agama resmi Kerajaan Majapahit. Pada masa ini aliran keagamaan ini masih dilestarikan di Bali.