Harry Tjahjono, Ukir Kerukunan Melalui Budaya

Memiliki seniman sekaligus budayawan besar seperti Harry Tjahjono merupakan kebanggaan bagi kota Madiun. Banyak karya yang sudah terlahir darinya, salah satu yang melegenda adalah skenario serial “Si Doel Anak Sekolahan” yang diperankan dan diproduseri Rano Karno yang ditayangkan oleh RCTI pada tahun 90-an.

Harry Tjahjono merupakan penggambaran yang ideal sosok seorang seniman dan budayawan. Segala hal yang dilakukannya menggunakan pendekatan seni dan budaya. Meski terbilang berpuluh tahun menetap di Jakarta, tutur katanya yang “Njawani” dan teratur dengan pola yang indah tetap terjaga.

Sang Maestro, Harry Tjahjono (Kiri) bersama Jenar Seta Kumala (Juara Nasional Taekwondo Profesional dari Madiun)

Kiprah pencipta Theme Song “Keluarga Cemara” ini di tengah masyarakat tidak dapat dipandang sepele. Tak segan ia terjun langsung ke masyarakat untuk berdialog, menyuarakan akal sehat dan suara hati rakyat. Sejak tahun 2000 bersama sang kakak Herutomo, ia mendirikan LSM Abimantrana yang bergerak di bidang rehabilitasi pengguna narkoba melalui pendekatan seni, budaya dan pemberdayaan keluarga. Keberadaan LSM ini didukung penuh oleh Ibu Sinta Nuriyah Wahid, istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pun Harry Tjahjono aktif dalam gerakan anti korupsi melalui pendekatan budaya. Hal ini terbukti dengan ia mendirikan Jaringan Pekerja Nusantara bersama tokoh seni dan budaya yang lain, seperti Sys NS, Arswendo Atmowiloto, Butet Kertaradjasa, Roy Marten, Herutomo. Jaringan ini telah mempelopori gerakan perlawanan kepada korupsi dengan membangun Monumen Gembok Kejujuran yang berada di Lapangan Gulun, Kota Madiun dan juga di Mejayan, Kabupaten Madiun.

Pria kelahiran kota Madiun ini-pun menyuarakan kerukunan sosial. Dimulai dari kota Madiun, Harry Tjahjono menggiatkan “Gerakan Rukun Agawe Madiun”. Hal ini merupakan bentuk keprihatinan akan terancamnya kerukunan sosial oleh hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi politik. Bahkan pada medio bulan Maret lalu, ia mengadakan Dialog budaya yang bertajuk Madiun Agawe Rukun untuk Kerukunan Indonesia dengan narasumber aktor sekaligus sutradara Slamet Rahardjo Djarot, dan juga akademisi dan penulis buku Ahmad Erani Yustika. (IB)