Herlin Susilowati, Tembus Batasan Kembangkan Kreativitas Budaya

Wayang merupakan kebudayaan asli Indonesia yang sudah mendunia, dahulu cerita-cerita wayang digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan ajara-ajaran dan nilai-nilai luhur kebudayaan. Sejak tahun 2003, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation) dibawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) telah menetapkan wayang Indonesia sebagai salah satu dari Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, berdasarkan hal tersebut, UNESCO menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Dunia.

Herlin Susilowati menunjukkan salah satu hasil kreasinya (Foto: Jihan | IndonesiaBagus.co.id)

Kota Madiun, Jawa Timur – Di Kota Madiun, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, Gang Jatijajar No. 2, berdiri Sanggar Kerajinan Wayang Karya Budaya, sanggar yang memproduksi wayang sejak tahun 1990. Berawal dari Bapak Soejito, seorang pensiunan Dinas Pengairan Kabupaten Madiun, sanggar ini memproduksi wayang kulit dengan berbagai macam tokoh-tokohnya.

Pada tahun 2001, Herlin Susilowati, putri bungsu dari Bapak Soejito, mulai terjun dalam dunia kerajinan pembuatan wayang, mengikuti jejak ayahnya. Dengan memanfaatkan kulit limbah dari pembuatan wayang kulit untuk diolah menjadi wayang kulit versi mini. Meskipun hanya bisa beraktifitas diatas kursi roda karena sakit yang dideritanya ketika masih kecil, hal ini tidak menyurutkan semangat Ibu Herlin untuk terus berkarya.

Beberapa hasil karya Herlin Susilowati (Foto: Jihan | IndonesiaBagus.co.id)

Seiring berjalannya waktu, karena harga kulit sapi yang terus meningkat, Ibu Herlin mulai mengembangkan usahanya dengan melirik bahan lain seperti kardus, kertas karton dan kertas bekas lainnya. Bahan-bahan ini kemudian diolah menjadi wayang versi mini dan gantungan kunci. Setelah dipasarkan, tenyata wayang-wayang mini ini justru mendapatkan respon positif dari pasar. Sejak saat itu, Ibu Herlin memutuskan untuk menambahkan kertas sebagai bahan baku dalam pembuatan wayang. Sekarang Ibu Herlin sedang menjalankan program pemanfaatan limbah banner untuk dijadikan barang-barang yang memiliki nilai ekonomi seperti tas dan lainnya.

Keaktifan Ibu Herlin dalam mengikuti seminar-seminar serta bergabung dalam komunitas UKM yang ada di Kota Madiun, banyak memberikan pengetahuan baru dan menjadikan produk yang dihasilkan oleh Ibu Herlin menjadi lebih variatif. Berbagai jenis produk baru yang diproduksi adalah souvenir (dalam berbagai bentuk), kalung batik, hiasan dinding dan boneka berpakaian batik serta memasukkan motif-motif batik dalam proses pewarnaan wayang, sehingga produk yang dihasilkan menjadi semakin menarik.

Saat ini, produk hasil dari Sanggar Kerajinan Wayang Karya Budaya dibawah pengelolaan Ibu Herlin telah tersebar hingga luar negeri, seperti Amerika, Belanda dan negara-negara Eropa lainnya, salah satunya melalui program pertukaran pelajar. Di akhir sesi wawancara, Ibu Herlin menyampaikan pesan kepada seluruh difable untuk terus menggali kemampuan yang ada pada diri. Dengan demikian, kemampuan tersebut bisa menumbuhkan semangat dan menutupi kekurangan yang mereka miliki. (IB)