Kirab Budaya Napak Tilas Perjanjian Giyanti 2020

Perjanjian Giyanti adalah perjanjian antara VOC, pihak Kesultanan Mataram yang diwakili oleh Sunan Pakubuwana III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian Giyanti ini menandai berakhirnya Kesultanan Mataram dengan terpecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Nama Giyanti diambil dari lokasi penandatanganan perjanjian tersebut, yaitu di Desa Giyanti yang sekarang terletak di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Kirab Budaya dan Napak Tilas Perjanjian Giyanti Tahun 2020 (Foto: Andri.W | IndonesiaBagus.co.id)

Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah – Ratusan warga berdesakan untuk memperebutkan 4 gunungan yang berisi arum manis, hasil bumi dan makanan olahan pada acara Kirab Budaya Dan Napak Tilas Perjanjian Giyanti yang diadakan di sepanjang jalan di depan lokasi Situs Perjanjian Giyanti yang terletak di Desa Jantiharjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis malam, (13/02/2020). 

Acara yang dihadiri oleh Drs. Sutarno, M.Si selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Karanganyar ini, digelar atas swadaya dari warga dan para tokoh masyarakat desa Jantiharjo. Acara ini telah 5 kalinya digelar di desa Jantiharjo. Isi acara yang cukup bervariasi mampu menarik pengunjung dari luar desa Jantiharjo bahkan tidak sedikit pengunjung yang berasal dari luar kabupaten Karanganyar. Mulai tanggal 7 Februari 2020, telah dibuka pasar malam dan bazar makanan di sekitar area Situs Perjanjian Giyanti. Kemudian pada Kamis siang, (13/02/2020) digelar kesenian Reog dan dilanjutkan dengan Kirab Budaya pada malam harinya. Kirab Budaya ini mengambil start di RW.IX dan berakhir di halaman situs. Dalam kirab budaya tersebut empat buah gunungan dikirab dengan jarak tak kurang dari 1 Kilometer. Sesampainya di halaman situs Perjanjian Giyanti dan usai didoakan, ratusan warga mulai memperebutkan gunungan dengan sangat antusias.

Bapak Ngadimin membacakan sejarah Perjanjian Giyanti (Foto: Andri.W | IndonesiaBagus.co.id)

Pembacaan sejarah Perjanjian Giyanti menjadi salah satu puncak acara kirab budaya tersebut. Sejarah tentang terpecahnya Kerajaan Mataram ini dibacakan oleh Bapak Ngadimin, warga desa Jantiharjo telah menjaga dan memelihara Situs Perjanjian Giyanti sejak 1987.

Kirab Budaya Dan Napak Tilas Perjanjian Giyanti yang ke-265 ini, diakui banyak pihak sebagai yang lebih meriah dibandingkan gelaran tahun – tahun sebelumnya. Pun Pihak pemerintah desa Jantiharjo optimis bahwa kedepannya desa Jantiharjo dapat menjadi desa wisata yang mampu membawa kesejahteraan yang lebih baik bagi warga setempat – Terlebih dengan keberadaan situs bersejarah seperti Situs Perjanjian Giyanti ini.

Usai acara, warga masyarakat saling berjabat tangan (Foto: Andri.W | IndonesiaBagus.co.id)

Gelaran acara Kirab Budaya Dan Napak Tilas Perjanjian Giyanti ini adalah untuk menghargai sejarah Perjanjian Giyanti dan segala hasil berkepanjangan dari peristiwa bersejarah di masa lalu tersebut yang tetap terasa hingga sekarang bagi masyarakat desa Jantiharjo. Dan juga sebagai wujud syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas berkah yang telah diterima selama setahun terakhir. Acara yang dikemas apik ini juga dihadiri oleh Danramil Karanganyar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kapolres, Camat dan beberapa perwakilan dari dinas terkait yang lain. (IB)