Parikesit Dadi Ratu Tutup Bulan Suro di Karaton Surakarta

Karaton Kasunanan Surakarta, Surakarta – Setelah sekitar satu bulan yang lalu Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro, Sabtu malam (31/8/19). Pada hari Minggu malam (29/9/2019), Karaton Surakarta kembali menyelenggarakan kegiatan budaya “Mangayubagya HajadDalem Ringgitan Tutup Suro Tahun Wawu 1953”. Acara ini merupakan acara penutup rangkaian kegiatan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada bulan Suro (Muharram) tahun 2019.

Keluarga besar Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, baik Sentono Dalem, Abdi Dalem, para seniman, serta warga masyarakat se-Solo Raya dan sekitarnya memenuh-sesaki Kagungan Dalem Sasana Mulya – Tempat diadakannya acara Ringgitan.

SISKS Pakoe Boewono XIII dan Kanjeng Ratu Pakoe Boewono menghadiri Mangayubagya HajadDalem Ringgitan Tutup Suro Tahun Wawu 1953 (FOTO: Andri / IndonesiaBagus.co.id)

Terlihat jelas antusias masyarakat sangat besar untuk menyaksikan dan turut nguri-uri gelaran budaya yang juga dihadiri oleh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIII serta Prameswari Dalem Kanjeng Ratu Pakoe Boewono. Tampak juga hadir dalam acara ini Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Alit (Kakak Sri Susuhunan Pakubuwana XIII), adik-adik Sri Susuhunan Pakubuwana XIII, dan juga dalang kondang Ki Manteb Soedharsono, Gus Nuril, serta Kirun.

Dalam kegiatan budaya yang berupa pagelaran Wayang Kulit tersebut, sang Dalang KGPH Adipati Benowo berhasil memukau para penonton dengan kepiawaiannya memainkan wayang yang menjadi salah satu pusaka Karaton “Kanjeng Kyai Kanyut”, sembari menceritakan lakon “Parikesit Dadi Ratu”.

KGPH Adipati Benowo memainkan wayang "Kanjeng Kyai Kanyut" (FOTO: Andri / IndonesiaBagus.co.id)

Raden Parikesit adalah putera Abimanyu atau Raden Angkawijaya dengan Dewi Utari. Ia lahir sesudah perang Baratayudha terjadi. Sosok yang sangat disayangi oleh para Pandawa. Dikisahkan, bahwa Pada saat Raden Parikesit masih bayi, ia selalu di cari oleh Aswatama untuk dibunuh, karena Aswatama mengetahui bahwa Parikesit inilah yang nantinya akan menguasai Hastinapura. Namun pada suatu saat, tanpa disengaja Parikesit menendang panah yang diletakkan buat menjaganya dan seketika mengenai Aswatama. Hingga Aswatama pun tersungkur menemui ajalnya. Raden Parikesit akhirnya-pun bertahta menjadi raja di negeri Hastinapura dengan nama Prabu Kresnadipayana.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah bahwa sebenarnya Parikesit memperoleh kekuasaan dan kekuatan sebagai seorang Raja tanpa dia yang menginginkan atau bahkan berambisi untuk menjadi seorang Raja. Raden Parikesit naik tahta dan menjadi raja karena sudah merupakan “Ketetapan Ilahiah” dan yang kemudian menjadi jalan takdirnya, bahkan diawali jauh dari sebelum ia dilahirkan. Dalam kisah pewayangan, hal ini setidaknya diawali oleh kerja keras, serta perjuangan berat ayah Parikesit, Abimanyu saat masih perjaka untuk memperoleh Wahyu Jayaningrat atau Wahyu Senapati yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa melalui para dewa di Kahyangan. (IB)